RANDAYAN
ISLAND
Surga di Kalimantan Barat
#GramediaHolidaySeason
Pertama kali saya mengunjungi Pulau Randayan ini, pada
tahun 2013. Hingga sekarang masih jadi destinasi favorit untuk liburan singkat.
Pulau Randayan terletak di Kalimantan Barat, Kabupaten
Bengkayang yang terkenal dengan biota lautnya. Untuk menuju pulau ini,
membutuhkan perahu boat atau perahu klotok yang bisa di sewa di tempat ataupun
sudah sewa secara pribadi jika memiliki kontak pengemudi kapal.
Inilah rangkaian perjalanan saya ke Randayan bersama
keluarga dan teman di akhir tahun 2016 kemarin.
***
Tiga hari sebelum berangkat, kami sudah menghubungi
pengemudi kapal untuk mengecek cuaca, gelombang laut, dan kondisi sekitar.
Setelah dipastikan semua, langsung transaksi dengan pengemudi kapal. Waktu itu
kami membuat perjanjian berangkat pukul 13.00 selama tiga hari dua malam.
Pukul 08.00 pagi, kami berangkat dari Pontianak dengan
mobil pribadi (Untuk yang berlibur, bisa menyewa mobil dan supir yang banyak
tersedia di Pontianak. Sebaiknya dengan supir agar perjalanan nyaman tanpa
takut tersesat.)
Kemudian pada pukul 09.30, kami tiba di Jungkat untuk
beristirahat sejenak. Di sini berjejer warung kopi yang terkenal enak banget
kopinya. Juga ada beberapa restoran yang sudah buka sejak pagi. Disarankan benar-benar
istirahat dan makan, karena perjalanannya lumayan memakan waktu, terutama untuk
supir.
Satu jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju
Teluk Suak. Baru jalan beberapa menit, kami dihubungi pengemudi kapal bahwa
hari itu Teluk Suak tidak bisa lagi untuk berangkat ke pulau dan dialihkan ke
Pantai Samudera, yang berarti berada di Kota Singkawang, sekitar lima belas
menit dari Teluk Suak.
Beruntungnya kondisi jalan saat itu cukup lenggang,
sehingga kami bisa tiba di Pantai Samudera pukul 12.40. Sesampainya di sana,
kami membayar parkir untuk menitipkan mobil selama tiga hari.
Setelah itu pengemudi kapal meminta kami agar segera
memasukkan barang bawaan ke kapal. Karena kami pergi selama tiga hari dua
malam, maka banyak sekali yang harus kami bawa seperti Rice Cooker, roti, selai, minuman, bumbu-bumbu dapur, panci, wajan,
dan makanan lainnya. Benar-benar seperti pindahan. Banyak orang yang mungkin
menertawakan kami. Percaya deh, semua itu akan dibutuhkan di sana kalau mau
menginap.
Tepat pukul 13.00 kapal mulai berangkat. Cuaca yang cerah
dan gelombang yang tenang membuat kapal bisa melaju lebih cepat. Untuk yang
mabuk laut, ada baiknya sebelum naik kapal minum obat mabuk laut dan sampai di
kapal langsung tidur.
Pukul 14.15, kapal mulai melambat dan berhenti sebentar
di Pulau Lemukutan. Di sana lebih ramai karena Pulau Randayan belum banyak yang
tahu. Di sini kita dikasih waktu untuk membeli makanan atau bumbu dan minuman. Waktu
itu kami memutuskan untuk nggak membeli apapun. Kemudian, perjalanan
dilanjutkan sekitar sepuluh menit. Pulau Randayan terletak di belakang Pulau
Lemukutan.
Tiba di Pulau Randayan, kita disambut Mas Mey dan salah
satu petugas di sana yang sudah siap dengan gerobak untuk membawa barang-barang
kami dari kapal. Setelah turun dari kapal, langsung bayar biaya pergi ke pengemudi
kapal dan mengingatkan untuk dijemput pukul 12.00 di hari kepulangan.
Untuk menuju villanya, kita melalui jembatan (gambar
atas) karena kapal hanya bisa merapat di ujung. Selama di jembatan kita bisa
melihat banyak bebatuan, ikan-ikan kecil, terumbu karang, dan ubur-ubur di air
yang hijau bersih.
Karena kami sudah memesan villa depan (gambar 1 atas),
maka dari jembatan langsung belok kiri. Di belakang ada juga penginapan yang
jauh lebih besar, tapi jauh kalau mau langsung bermain air (gambar 2 bawah). Dan
juga villa belakang hawanya lebih panas. Karena waktu itu hanya kami saja yang di sana, pulau ini
udah seperti pulau pribadi. Benar-benar tenang, nyaman, dan jauh dari
kebisingan.
Kami memesan dua kamar lantai atas. Satu kamar terdapat
dua ranjang berukuran besar, toilet, dan televisi. Percayalah, sampai di sana
jangan harap bisa nonton karena sama sekali nggak ada listrik. Ponsel juga
nggak akan berguna karena sinyal nggak sampai ke pulau. Satu-satunya yang bisa
tersambung adalah provider Telkomsel dengan jaringan edge.
Setelah
meletakkan barang-barang di kamar, kami memutuskan untuk makan dulu. Kebetulan
dari Pontianak kami sudah memasak nasi dan sedikit lauk. Ada yang makan di
dapur (terletak di bawah kamar villa nomor 5), ada yang makan di gazebo (gambar
bawah), ataupun langsung duduk di rumput untuk menikmati pemandangan dan
gelombang ombak.
Selesai
makan, tanpa menunggu waktu, semua mulai lari ke bawah dan bermain air. Yang
bisa berenang biasanya akan berenang ke perbatasan air. Batas yang dimaksud
melalui warna air. Jika hijau, pertanda tidak terlalu dalam. Dan jika berwarna
biru, itu pertanda dalam dan disarankan yang nggak bisa berenang jangan
coba-coba ke sana.
Tadinya kami ingin snorkling/menyelam.
Tetapi, karena sudah terlalu sore, petugas yang menyewakan alatnya menyarankan
besok siang agar bisa melihat keindahannya lebih jelas. Sekitar pukul 17.00 ada
nelayan yang pulang dari melaut, kita bisa loh beli ikan dari mereka. Waktu itu
kami borong semua dan menyisakan beberapa untuk nelayan dan keluarganya yang
kebetulan ikut melaut. Mereka sangat baik dan ramah. Bahkan nggak bisa
menentukan harga ikan yang mereka dapatkan, karena sebenarnya bukan buat
dijual.
Menjelang
sunset, kami menuju jembatan di
bagian kanan agar dapat melihat sunset
lebih jelas. Persiapkan ponsel atau kamera. Karena sayang banget nggak
diabadikan. Pemandangannya sangat cantik.
Setelah sunset
berakhir, listrik pun menyala. Segera ke villa untuk menyalakan air conditioner dan air di toilet.
Pastinya colokan yang dibawa sangat berguna, karena setiap kamar hanya ada satu
tempat untuk colokan. Jangan lupa juga untuk memasak nasi lebih banyak untuk
makan malam sampai pagi. Di sini restorannya nggak selalu beroperasi. Kalau
pergi ke sana ketika restoran tutup, tentunya bakal kelaparan karena nggak bawa
apa-apa.
Malam
itu kami menyalakan api dengan arang yang sudah kami bawa. Sementara para pria
sibuk membuat api dan memanggang ikan, yang lain membuat bumbu, menyiapkan nasi
dan lauk. Benar-benar nggak nyesal memborong ikan, karena ikannya benar-benar masih
segar dan dagingnya banyak.
Setelah itu semua memutuskan tidur karena masih kecapean
dan supaya bisa bangun pagi keesokan harinya.
***
Pukul 04.00 pagi, semua listrik kembali mati. Listrik hanya
tersedia dari pukul 18.00 – 04.00 pagi saja karena belum ada pasokan listrik
yang masuk sampai sini, beda dengan Lemukutan yang katanya sudah dipasok (kurang
tahu juga sih ini. Masih simpang siur).
Pagi-pagi kami membuat kopi, teh, dan roti untuk sarapan.
Ada yang makan indomie dengan nasi karena lapar. Pagi-pagi hawa hangat mulai
terasa. Jangan lewatkan juga pemandangan Sunrisenya.
Sama cantik dengan Sunset.
Pagi ini kami habiskan untuk bermain air, keliling pulau
yang berbentuk melingkar. Ketika menyelam, salah satu teman mendapatkan ikan
yang fenomenal. Ikan Nemo. Setelah puas memotret si Nemo, akhirnya dilepas
kembali. Sebaiknya kita memang nggak membawa pulang ikannya, karena habitatnya
memang di sini.
Berikut beberapa foto yang berhasil diabadikan, termasuk
si Nemo ini.
1. Foto Ikan Nemo
2. Pemandangan laut di belakang pulau
3. Bawah jembatan. Air yang jernih
4. Pemandangan dari
atas kamar
5. Laut dari depan
6 & 7. Pulau di bagian kanan.
Malam harinya, Mas Mey menyarankan kami berkumpul
di
jembatan. Katanya kalau beruntung, bakal bisa lihat seuatu di langit.
Aneh tapi
nyata, sekitar jam 23.00 beberapa bintang mulai melayang jatuh. Setiap
melihat bintang jatuh, kami segera memejamkan mata dan memohon
sesuatu dalam hati. Sayang banget hal ini nggak kerekam, karena ponsel
semua
sedang charge di kamar. Kata Mas Mey,
pemandangan ini jarang banget. Dan malam itu kami habiskan waktu di jembatan
sampai jam 02.00.
***
Keesokan harinya, jam 11.00 kami meninggalkan pulau ini.
Serius, kalau kalian melewatkan Pulau Randayan, kalian pasti menyesal.
Keindahan pulaunya benar-benar bikin pikiran tenang dan senang. Apalagi buat
yang suka ketenangan, ini pilihan yang sangat tepat. Tapi, ingat! Kalau udah ke
sini, kita bantu melestarikan keindahan pulau. Jangan buang sampah sembarangan,
jangan rusak biota laut yang sedang berkembang.
Ingat juga, pastikan cuaca sedang bagus ke sininya. Kami
pernah kena cuaca buruk, di mana kapal sampai terombang-ambing parah dan
barang-barang kami sampai terlempar ke kanan, kiri. Bahkan waktu naik ke
kapalnya harus dari atap kapal. Belum lagi angin kencangnya sampai menusuk
tulang. Sejak itu kami selalu memastikan cuaca dulu dengan pengemudi kapal.
Gini-gini mereka hebat loh memperkirakan cuaca. Empat kali ke sana sesuai saran
mereka, empat kali dapat cuaca yang bagus.
Terakhir, buat yang mau foto Prewedding atau buat acara, Pulau Randayan juga tempat yang bagus.
Banyak loh perusahaan yang pernah ngadain acara di sini dan mengaku puas.
Berikut ini list barang-barang yang sebaiknya di bawa
kalau memutuskan untuk menginap. Memang banyak, tapi percaya deh ini penting
banget.
1. Rice Cooker dan beras
(Kalau nggak bisa jauh dari nasi.)
2. Minuman, makanan
instan dan cemilan secukupnya.
3. Arang dan alat
pemanggang kalau ada rencana mau bbq di sana.
4. Piring, gelas dan
sendok plastik. Lebih bagus yang sekali pakai buang.
5. Colokan.
6. Power bank.
7. Kamera.
Dan ini perkiraan harga ke sana selama 3 hari dua malam :
* Transportasi pribadi : -
* Biaya Kapal : Rp. 1.150.000 (Pulang pergi) bisa nego.
* Biaya Villa : Rp. 550.000/malam (bukan high season)
*
Biaya tak terduga :
Rp. 200.000
Total : Rp.
1.900.000
Terhitung murah, kepuasan pun terjamin. Masih yakin nggak
mau ke sini? Yang udah ke sini aja sudah berencana kembali lagi ke sini, loh. Pulau
Randayan benar-benar Surga Kecil di Kalimantan Barat. Ayo, ke Pulau Randayan
alias Randayan Island
***














Bersih bangeeeet pantainyaaaa 😍😍😍
BalasHapusBanget, Eva. Harus ke sini nih kalau main2 ke Pontianak ����
HapusWaah, ada bintang jatuh... luv luv
BalasHapusIya. Tapi hanya bulan2 tertentu. Tergantung keberuntungan juga sih
HapusNemonya lucu. Imut gitu. 😊
BalasHapusBanget Kak hehehe ��
HapusNemonya lucu. Imut gitu. 😊
BalasHapus