Selasa, 12 Desember 2017

Randayan Island, Surga di Kalimantan Barat




RANDAYAN ISLAND
Surga di Kalimantan Barat
#GramediaHolidaySeason



            Pertama kali saya mengunjungi Pulau Randayan ini, pada tahun 2013. Hingga sekarang masih jadi destinasi favorit untuk liburan singkat.

            Pulau Randayan terletak di Kalimantan Barat, Kabupaten Bengkayang yang terkenal dengan biota lautnya. Untuk menuju pulau ini, membutuhkan perahu boat atau perahu klotok yang bisa di sewa di tempat ataupun sudah sewa secara pribadi jika memiliki kontak pengemudi kapal.

            Inilah rangkaian perjalanan saya ke Randayan bersama keluarga dan teman di akhir tahun 2016 kemarin.
***
            Tiga hari sebelum berangkat, kami sudah menghubungi pengemudi kapal untuk mengecek cuaca, gelombang laut, dan kondisi sekitar. Setelah dipastikan semua, langsung transaksi dengan pengemudi kapal. Waktu itu kami membuat perjanjian berangkat pukul 13.00 selama tiga hari dua malam.

            Pukul 08.00 pagi, kami berangkat dari Pontianak dengan mobil pribadi (Untuk yang berlibur, bisa menyewa mobil dan supir yang banyak tersedia di Pontianak. Sebaiknya dengan supir agar perjalanan nyaman tanpa takut tersesat.)

            Kemudian pada pukul 09.30, kami tiba di Jungkat untuk beristirahat sejenak. Di sini berjejer warung kopi yang terkenal enak banget kopinya. Juga ada beberapa restoran yang sudah buka sejak pagi. Disarankan benar-benar istirahat dan makan, karena perjalanannya lumayan memakan waktu, terutama untuk supir.

            Satu jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Teluk Suak. Baru jalan beberapa menit, kami dihubungi pengemudi kapal bahwa hari itu Teluk Suak tidak bisa lagi untuk berangkat ke pulau dan dialihkan ke Pantai Samudera, yang berarti berada di Kota Singkawang, sekitar lima belas menit dari Teluk Suak.

            Beruntungnya kondisi jalan saat itu cukup lenggang, sehingga kami bisa tiba di Pantai Samudera pukul 12.40. Sesampainya di sana, kami membayar parkir untuk menitipkan mobil selama tiga hari. 

            Setelah itu pengemudi kapal meminta kami agar segera memasukkan barang bawaan ke kapal. Karena kami pergi selama tiga hari dua malam, maka banyak sekali yang harus kami bawa seperti Rice Cooker, roti, selai, minuman, bumbu-bumbu dapur, panci, wajan, dan makanan lainnya. Benar-benar seperti pindahan. Banyak orang yang mungkin menertawakan kami. Percaya deh, semua itu akan dibutuhkan di sana kalau mau menginap.

            Tepat pukul 13.00 kapal mulai berangkat. Cuaca yang cerah dan gelombang yang tenang membuat kapal bisa melaju lebih cepat. Untuk yang mabuk laut, ada baiknya sebelum naik kapal minum obat mabuk laut dan sampai di kapal langsung tidur. 

            Pukul 14.15, kapal mulai melambat dan berhenti sebentar di Pulau Lemukutan. Di sana lebih ramai karena Pulau Randayan belum banyak yang tahu. Di sini kita dikasih waktu untuk membeli makanan atau bumbu dan minuman. Waktu itu kami memutuskan untuk nggak membeli apapun. Kemudian, perjalanan dilanjutkan sekitar sepuluh menit. Pulau Randayan terletak di belakang Pulau Lemukutan.

            Tiba di Pulau Randayan, kita disambut Mas Mey dan salah satu petugas di sana yang sudah siap dengan gerobak untuk membawa barang-barang kami dari kapal. Setelah turun dari kapal, langsung bayar biaya pergi ke pengemudi kapal dan mengingatkan untuk dijemput pukul 12.00 di hari kepulangan.
 


           
             Untuk menuju villanya, kita melalui jembatan (gambar atas) karena kapal hanya bisa merapat di ujung. Selama di jembatan kita bisa melihat banyak bebatuan, ikan-ikan kecil, terumbu karang, dan ubur-ubur di air yang hijau bersih.





             
             Karena kami sudah memesan villa depan (gambar 1 atas), maka dari jembatan langsung belok kiri. Di belakang ada juga penginapan yang jauh lebih besar, tapi jauh kalau mau langsung bermain air (gambar 2 bawah). Dan juga villa belakang hawanya lebih panas. Karena waktu itu hanya kami saja yang di sana, pulau ini udah seperti pulau pribadi. Benar-benar tenang, nyaman, dan jauh dari kebisingan.
 
            Kami memesan dua kamar lantai atas. Satu kamar terdapat dua ranjang berukuran besar, toilet, dan televisi. Percayalah, sampai di sana jangan harap bisa nonton karena sama sekali nggak ada listrik. Ponsel juga nggak akan berguna karena sinyal nggak sampai ke pulau. Satu-satunya yang bisa tersambung adalah provider Telkomsel dengan jaringan edge

Setelah meletakkan barang-barang di kamar, kami memutuskan untuk makan dulu. Kebetulan dari Pontianak kami sudah memasak nasi dan sedikit lauk. Ada yang makan di dapur (terletak di bawah kamar villa nomor 5), ada yang makan di gazebo (gambar bawah), ataupun langsung duduk di rumput untuk menikmati pemandangan dan gelombang ombak.


Selesai makan, tanpa menunggu waktu, semua mulai lari ke bawah dan bermain air. Yang bisa berenang biasanya akan berenang ke perbatasan air. Batas yang dimaksud melalui warna air. Jika hijau, pertanda tidak terlalu dalam. Dan jika berwarna biru, itu pertanda dalam dan disarankan yang nggak bisa berenang jangan coba-coba ke sana.

            Tadinya kami ingin snorkling/menyelam. Tetapi, karena sudah terlalu sore, petugas yang menyewakan alatnya menyarankan besok siang agar bisa melihat keindahannya lebih jelas. Sekitar pukul 17.00 ada nelayan yang pulang dari melaut, kita bisa loh beli ikan dari mereka. Waktu itu kami borong semua dan menyisakan beberapa untuk nelayan dan keluarganya yang kebetulan ikut melaut. Mereka sangat baik dan ramah. Bahkan nggak bisa menentukan harga ikan yang mereka dapatkan, karena sebenarnya bukan buat dijual.

Menjelang sunset, kami menuju jembatan di bagian kanan agar dapat melihat sunset lebih jelas. Persiapkan ponsel atau kamera. Karena sayang banget nggak diabadikan. Pemandangannya sangat cantik.






            Setelah sunset berakhir, listrik pun menyala. Segera ke villa untuk menyalakan air conditioner dan air di toilet. Pastinya colokan yang dibawa sangat berguna, karena setiap kamar hanya ada satu tempat untuk colokan. Jangan lupa juga untuk memasak nasi lebih banyak untuk makan malam sampai pagi. Di sini restorannya nggak selalu beroperasi. Kalau pergi ke sana ketika restoran tutup, tentunya bakal kelaparan karena nggak bawa apa-apa. 

Malam itu kami menyalakan api dengan arang yang sudah kami bawa. Sementara para pria sibuk membuat api dan memanggang ikan, yang lain membuat bumbu, menyiapkan nasi dan lauk. Benar-benar nggak nyesal memborong ikan, karena ikannya benar-benar masih segar dan dagingnya banyak. 

            Setelah itu semua memutuskan tidur karena masih kecapean dan supaya bisa bangun pagi keesokan harinya.
***
            Pukul 04.00 pagi, semua listrik kembali mati. Listrik hanya tersedia dari pukul 18.00 – 04.00 pagi saja karena belum ada pasokan listrik yang masuk sampai sini, beda dengan Lemukutan yang katanya sudah dipasok (kurang tahu juga sih ini. Masih simpang siur).

            Pagi-pagi kami membuat kopi, teh, dan roti untuk sarapan. Ada yang makan indomie dengan nasi karena lapar. Pagi-pagi hawa hangat mulai terasa. Jangan lewatkan juga pemandangan Sunrisenya. Sama cantik dengan Sunset.


            Pagi ini kami habiskan untuk bermain air, keliling pulau yang berbentuk melingkar. Ketika menyelam, salah satu teman mendapatkan ikan yang fenomenal. Ikan Nemo. Setelah puas memotret si Nemo, akhirnya dilepas kembali. Sebaiknya kita memang nggak membawa pulang ikannya, karena habitatnya memang di sini.

            Berikut beberapa foto yang berhasil diabadikan, termasuk si Nemo ini.









 




 


1.        Foto Ikan Nemo
2.        Pemandangan laut di belakang pulau
3.        Bawah jembatan. Air yang jernih
4.        Pemandangan dari atas kamar 
5.        Laut dari depan
6 & 7. Pulau di bagian kanan.

            Malam harinya, Mas Mey menyarankan kami berkumpul di jembatan. Katanya kalau beruntung, bakal bisa lihat seuatu di langit. Aneh tapi nyata, sekitar jam 23.00 beberapa bintang mulai melayang jatuh. Setiap melihat bintang jatuh, kami segera memejamkan mata dan memohon sesuatu dalam hati. Sayang banget hal ini nggak kerekam, karena ponsel semua sedang charge di kamar. Kata Mas Mey, pemandangan ini jarang banget. Dan malam itu kami habiskan waktu di jembatan sampai jam 02.00.
***
            Keesokan harinya, jam 11.00 kami meninggalkan pulau ini. Serius, kalau kalian melewatkan Pulau Randayan, kalian pasti menyesal. Keindahan pulaunya benar-benar bikin pikiran tenang dan senang. Apalagi buat yang suka ketenangan, ini pilihan yang sangat tepat. Tapi, ingat! Kalau udah ke sini, kita bantu melestarikan keindahan pulau. Jangan buang sampah sembarangan, jangan rusak biota laut yang sedang berkembang. 

            Ingat juga, pastikan cuaca sedang bagus ke sininya. Kami pernah kena cuaca buruk, di mana kapal sampai terombang-ambing parah dan barang-barang kami sampai terlempar ke kanan, kiri. Bahkan waktu naik ke kapalnya harus dari atap kapal. Belum lagi angin kencangnya sampai menusuk tulang. Sejak itu kami selalu memastikan cuaca dulu dengan pengemudi kapal. Gini-gini mereka hebat loh memperkirakan cuaca. Empat kali ke sana sesuai saran mereka, empat kali dapat cuaca yang bagus.

            Terakhir, buat yang mau foto Prewedding atau buat acara, Pulau Randayan juga tempat yang bagus. Banyak loh perusahaan yang pernah ngadain acara di sini dan mengaku puas. 

            Berikut ini list barang-barang yang sebaiknya di bawa kalau memutuskan untuk menginap. Memang banyak, tapi percaya deh ini penting banget.
1. Rice Cooker dan beras (Kalau nggak bisa jauh dari nasi.)
2. Minuman, makanan instan dan cemilan secukupnya.
3. Arang dan alat pemanggang kalau ada rencana mau bbq di sana.
4. Piring, gelas dan sendok plastik. Lebih bagus yang sekali pakai buang.
5. Colokan.
6. Power bank.
7. Kamera.

            Dan ini perkiraan harga ke sana selama 3 hari dua malam :
* Transportasi pribadi : -
* Biaya Kapal                         : Rp.  1.150.000 (Pulang pergi) bisa nego.
* Biaya Villa                           : Rp.     550.000/malam (bukan high season)
* Biaya tak terduga                 : Rp.     200.000
Total                                        : Rp. 1.900.000


            Terhitung murah, kepuasan pun terjamin. Masih yakin nggak mau ke sini? Yang udah ke sini aja sudah berencana kembali lagi ke sini, loh. Pulau Randayan benar-benar Surga Kecil di Kalimantan Barat. Ayo, ke Pulau Randayan alias Randayan Island

***






           


7 komentar :

  1. Bersih bangeeeet pantainyaaaa 😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, Eva. Harus ke sini nih kalau main2 ke Pontianak ����

      Hapus
  2. Waah, ada bintang jatuh... luv luv

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Tapi hanya bulan2 tertentu. Tergantung keberuntungan juga sih

      Hapus

Leave a comment here ...