Rabu, 01 Oktober 2014

Merindumu

27 Desember 2013

       Sesampainya aku di terminal kedatangan luar negeri Bandara International Soekarno-Hatta, aku duduk di kursi tunggu yang tersedia di sana dengan sabar. kulirik jam tanganku. Masih satu jam.

Untuk menghilangkan rasa bosan, aku mengeluarkan ipod-ku untuk mendengarkan lagu. Tanganku dengan lincah mulai menari di Ipod mencari lagu kesukaanku. Ehm… tepatnya lagu kesukaan aku dan Frans. Tanganku berhenti di lagu Lucky-nya Jason Mraz ft. Colbie Caillat. Lagu itu sukses membuatku tenggelam akan kenangan tentang aku dan Frans.

***

Frans adalah sahabatku dari kecil. Setelah lulus, ia melanjutkan study-nya di Sydney, Australia. Ia kuliah sambil bekerja. Hampir setiap malam kami selalu chatting lewat media sosial. Kami berdua saling berbagi cerita apapun. Dan sepertinya kami tidak pernah kehabisan ide cerita.

Seringnya kami bersama, tak pelak menimbulkan gosip bahwa aku dan Frans bukan sekedar sahabat. Melainkan kekasih. Aku dan Frans hanya tertawa mendengar hal tersebut. Kami tidak membenarkan, tidak pula menyangkal.

“Lucu ya gosip-gosip itu,” ujar Frans suatu hari, saat bertandang ke rumahku sepulang sekolah.

“Namanya juga gosip, Frans.”

“Apa kita benar-benar pacaran aja?” tanyanya dengan wajah serius.

Aku tertegun sejenak. Kurasa wajahku mulai memanas dengan sendirinya. Tidak mungkin Frans berniat seperti itu. Aku menahan nafas melihat tatapan seriusnya. Sedetik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk wajahku. Saking kesalnya, aku mengambil bantal sofa dan mulai memukulnya hingga ia kewalahan.

“Mukamu lucu sekali. Kamu bisa juga malu-malu begitu?” tanyanya masih sambil tertawa. Lalu ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Atau… kamu memang benar-benar suka sama aku?”

“Ih…,” keluhku sambil menonjok lengannya. “Amit-amit suka sama kamu. Aku sudah punya seseorang yang aku taksir, kok,” dustaku dengan sangat meyakinkan.

Frans terdiam. Ia menatapku lebih lekat. “Hei, siapa dia? Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

“Ngapain aku cerita sama kamu?” tanyaku sambil beranjak dari sofa. “Kamu mau minum apa?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Frans ikut bangkit dan membuntutiku ke arah dapur. “Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, ya? Kenapa kamu tidak cerita?”

“Setiap orang punya privacy, kan?” tanyaku balik sambil menyerahkan sekaleng softdrink.

“Kan jangan ada dusta di antara kita.”

Aku menatapnya dengan tatapan aneh, lalu tertawa. “Itu judul lagu, tuh.”

Yeee, bukan gitu. Ayo dong, kasih tahu!”

Dengan cuek aku membuka kaleng softdrink-ku dan menengaknya sambil kembali ke ruang tamu. Diam-diam aku ingin tertawa melihat wajah penuh rasa penasarannya. Sebentar lagi dia pasti akan ngambek karena aku tak kunjung menjawabnya.

***

Kupikir Frans tidak akan mempersoalkan hal itu lagi. Tapi dugaanku salah. Ia masih saja didera rasa penasaranIa masih terus bertanya dan merajuk.

“Frans, udah deh!” protesku kesal.

“Tidak bisa begitu. Kalau ada apa-apa kita pasti saling cerita.”

Aku menghela nafas. “Baiklah. Sebenarnya aku bohong. Tidak ada yang lagi kutaksir.”

Frans meneliti wajahku mencoba mencari kebohongan. “Kamu pasti bohong.”

“Terserah kamu, deh!”

Frans akhirnya diam dan tidak lagi bertanya. Aku meliriknya diam-diam dan tersenyum. Frans sebenarnya tampan. Dia tinggi, putih, perhatian, pintar pula. Tapi ada satu yang aku sukai dari Frans. Bola matanya yang berwarna coklat. Rasanya teduh. Tapi aku tidak bisa lama-lama menatap bola matanya itu. Karena aku takut perasaanku terbaca dengan jelas olehnya.

Dua belas tahun berteman dengannya mungkin sudah cukup menjelaskan semuanya. Ya, aku akui aku memang menyukainya. Tapi untuk menyatakan duluan, rasanya sangat tidak mungkin. Bagaimanapun prinsipku adalah pria duluan yang menyatakan.

“Kenapa lihat-lihat? Naksir, ya?” tanyanya dengan nada menggoda.

Aku berpura-pura akan muntah. Ini nih satu kelakuannya yang menyebalkan. Dia suka menggodaku dengan tingkat kepedeannya yang luar biasa.

“Shasa, aku pengen bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Lulus nanti, aku akan kuliah di Sydney,” ujarnya dengan senang. Tapi tidak untukku. Bukankah itu artinya aku akan berpisah dengannya?

Kamu tahu kan dari dulu aku pengen banget ke sana? Kuliah di sana, kerja di sana. Pasti menyenangkan. Dan kamu tahu? Papa dan Mamasangat setuju dengan keputusanku.” Frans terus saja berceloteh tanpa sadar. Padahal setiap kata-katanyamenyayat hatiku seiris demi seiris.

“Frans, aku…”

“Kenapa? Kamu pasti mendukungku, kan?”

Aku memaksakan senyumku. Aku mengangguk-angguk sambil tetap tersenyum palsu. Melihat ia senang seperti itu, mana mungkin aku melarangnya?

Kita bakal pisah, dong?” pancingku.

Ia menoleh, lalu mengacak-acak rambutku sambil terkekeh. “Jangan takut. Aku tidak akan lupa sama kamu. Kamu kan bukan temanku, tapi sahabatku.”

“Kalau kamu lupa sama aku bagaimana?”

Frans terdiam dan terlihat pura-pura seperti sedang berpikir. Aku tergelak dan menonjok lengannya.

“Heiii, kamu harus belajar untuk berhenti nonjok lenganku!” protesnya sambil mengusap lengan-nya.

“Kalau kamu sampai lupa sama aku, aku pasti nonjok hidungmu sampai patah,” balasku sambil berkacak pinggang.

Ia tertawa dan meraihku ke dalam pelukannya.

Aku merasa tubuhku menegang. Selama dua belas tahun, belum pernah ia memelukku. Tanganku hendak balas memeluknya. Tapi entah kenapa tanganku hanya bisa menggantung di udara. Bisakah aku menghentikan waktu sejenak?

***

Seminggu setelah kelulusan, aku bersama kedua orang tuanya melepaskan kepergian Frans di bandara. Aku ingin menangis, tapi aku tidak mau Frans yang tampak senang menjadi sedih karenaku. Sebisa mungkin aku menahan tangisku. Tidak mudah karena Mama Frans sudah menangis sambil memeluknya, serasa enggan melepaskannya. Papa Frans terpaksa harus menarik istrinya menjauh.

“Kami tunggu di mobil, Sha,” ujar Papa Frans yang kubalas dengan anggukan.

Aku menatap kepergian mereka, lalu menatap Frans.

“Mamaku berlebihkan,” ujarnya sambil tersenyum geli.

“Siapa suruh kamu menjadi anak semata wayang?” balasku .

Ia tertawa dan mengacak rambutku. “Ih, kamu juga harus belajar berhenti mengacak rambutku!

“Suka-suka aku!”

“Kalau begitu, suka-suka aku juga nonjok kamu!”

“Gak kreatif!”

“Biarin!”

Lalu kami tertawa bersama. Tiba-tiba Frans kembali memelukku dengan erat. Aku tidak bisa lagi menahan tangisku. Kali ini aku balas memeluknya. Anggap saja ini kesempatan terakhir.

“Kamu belum cek email-mu?” bisiknya pelan.

Aku terkejut. Buru-buru aku menghapus air mataku dan melepaskan pelukannya. Ia tampak tersenyum. “Email? Belum.”

Nanti di mobil, bacalah! Aku mengirimkan sebuah email.”

“Tumben kamu kirim email? Kan kita masih ketemu.”

“Jangan protes! Aku pergi dulu.”

Aku mengangguk. “Sampai jumpa, Frans. Jaga diri di sana.”

“Iya. Dan kamu harus janji menjemputku saat aku pulang nanti. Oke?”

Aku menunjukkan jari kelingking kananku. Ia tersenyum lalu mengaitkan jari kelingkingnya. “Aku janji.”

Lantas Frans melambaikan tangannya dan pergi. Aku segera menuju parkiran tempat orang tua Frans menunggu. Tampak kondisi Mama Frans sudah membaik.

Aku segera membuka email dari ponselku. Ternyata memang ada satu email dari Frans. Isi email Frans membuatku tercengang. Ada gambar hati dengan tulisan I Love You. Lalu di bawahnya ada sebuah kata-kata yang membuat senyumku tambah mengembang. Please, waiting for me. I will comeback for you. Dengan cepat kuketik balasannya. I Love you too, and I will waiting for you.

***

Aku tersentak melihat orang-orang mulai berdiri menyambut di pintu kedatangan. Rupanya pesawat sudah mendarat. Aku terlalu asyik dalam lamunanku. Aku melepaskan ipod dan menaruhnya di dalam tas. Lalu aku mengeluarkan selembar foto Frans berukuran 4R dan tersenyum.

Kamu sudah pulang, Frans. Aku menepati janjiku untuk menjemputmu di sini.

Aku bangkit dari kursi dan berjalan pergi, lalu menyetop sebuah taxi. Supir taxi sempat menatapku dengan aneh. Ketika aku menyebutkan tujuanku, ia melihatku dengan tatapan lebih aneh lagi. Namun ia tetap menjalankan taxi-nya.

Taxi tersebut berhenti di sebuah pemakaman yang asri. Setelah membayar sang supir, aku turun dan menuju sebuah makam yang terawat rapi. Kedua orang tua Frans sudah berada di situ.

“Om, Tante, maaf aku terlambat.”

“Kamu ke bandara?” tanya Mama Frans yang kubalas dengan anggukan.

Kami bertiga menatap makam Frans dengan sedih. Kami sama-sama kehilangan.

Frans Hermawan

Lahir: 10 Januari 1989

Meninggal    27 Desember 2012

Tahun lalu, pesawat yang ditumpangi Frans mengalami kecelakaan. Sebagian korban meninggal termasuk Frans. I miss you, Frans. So Much.

***