Senin, 23 Desember 2013

Project FF Natal Bersama 24-12-2013






CHRISTMAS GIFTS
By : Felis Linanda
            Kulangkahkan kakiku menuju salah satu Karaoke Lounge yang terkenal di Jepang bersama Yuri. Hari ini salah satu teman kami mengadakan perayaan malam Natal di sana.
            Aku menggenggam erat tas plastik berwarna biru yang berisi sebuah kado. Kado yang mungkin sudah dianggap kuno. Tapi kado ini tidak bisa dibeli di manapun. Aku membuatnya tanpa lelah hingga kurang tidur hanya untuk seseorang.
             “Kado apa yang akan kau berikan kepada Yuzuru?” tanya Yuri setengah berbisik.
            Wajahku memerah dengan refleks. Kueratkan syal di leherku, mencegah cuaca dingin yang menusuk tubuhku. “Tidak... tidak ada.”
            Yuri menatapku dengan curiga. “Aku yakin kau mempunyai hadiah khusus untuknya. Jangan-jangan kau akan memberikannya ketika kalian hanya berdua saja.”
            “Tidak... tidak...,” elakku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku berkali-kali.
            “Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi...” Yuri mendekatkan telinganya. “Aku melihat sesuatu terbungkus indah dalam tas plastikmu.”
            Arrrgh!! Bodohnya aku. Tas yang ditenteng begitu saja pasti akan terlihat. Kali ini aku seperti orang bodoh di hadapan Yuri.
            “Berikan saja! Jangan malu.”
            Aku mengangguk. Kami berdua masuk ke dalam Lounge dan mencari ruangan tempat pesta. Ketika kami masuk, ruangan tersebut sudah terjadi kehebohan. Aku tidak menyangka banyak yang hadir di sana. Kulihat Yuzuru tengah dikelilingi beberapa gadis. Melihat kado-kado mereka yang terbungkus cantik, aku merasa kadoku akan terlihat buruk.
            “Sana!” seru Yuri sambil menyenggol bahuku.
            Aku menarik nafas, lalu menghelanya dengan pelan. Ketika aku hampir mendekati Yuzuru, tiba-tiba kudengar beberapa orang menyelutuk.
            “Membosankan! Kenapa hadiah yang kuterima itu itu saja setiap tahunnya,” keluh Teppei.
            “Betul! Kado membosankan seperti syal rajutan sendiri, sapu tangan rajutan sendiri, sarung tangan rajutan sendiri. Seperti tidak ada hadiah lain saja,” tambah Okita.
            “Benar-benar kado yang kuno!” lanjut Tamura tanpa perasaan.
            Dengan refleks aku menyembunyikan tas plastikku ke belakang. Aku mengigit bibir dengan kesal. Ternyata kadoku termasuk salah satu hadiah membosankan.
            “Kaneda, hai...”
            Aku mengangkat wajahku dan terkejut melihat Yuzuru di depanku. “Ng... hai.”
            “Kau kenapa?” tanyanya cemas. Lalu ia menoleh ke arah belakang, seolah tahu aku menyembunyikan sesuatu. “Itu untukku?”
            Aku menggeleng dengan cepat. “Maaf, aku keluar sebentar!”
            Aku berbalik dan berlari keluar. Kusandarkan tubuh ke dinding dengan nafas tersengal-sengal. Kutatap tas plastikku dengan malas. Tadinya kupikir ini akan jadi hadiah yang bagus untuknya. Kenapa ini malah termasuk salah satu hadiah yang membosankan dan kuno. Ah, aku memang bodoh!
            Aku melihat tong sampah besi di sana. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung meletakkan tas itu di sana. Sambil menghentakkan kaki dan bibir mengkerut, aku kembali masuk ke dalam ruangan Lounge. Lebih baik tidak memberikan apapun dari pada mempermalukan diri sendiri.
            Aku berpapasan dengan Yuzuru yang melangkah keluar. “Kau ke mana saja? Acara hampir dimulai.”
            “Aku... aku ke toilet sebentar tadi.”
            “Masuklah, aku juga mau ke belakang sebentar.”
            “Iya.”
            Di dalam aku melihat semua sudah mulai karaoke. Masing-masing sibuk sendiri. Aku mendekati Yuri yang sedang asyik menikmati lagu yang dinyanyikan teman-teman.
            “Kaneda, bagaimana? Sudah kau berikan?”
            Aku menggeleng pasrah dan duduk di sebelahnya. “Tidak jadi.”
            “Loh? Kenapa? Lalu, mana kadomu?”
            “Sudah kubuang!”
            Nani ga?[1] tanya Yuri dengan mata membesar. “Naze?[2]
            Aku menggeleng sambil tersenyum. “Lupakan. Aku rencana memberikan yang lain saja.”
            Yuri menggelengkan kepalanya. Mungkin ia merasa aku sangat aneh. Ya, aku memang aneh.
            Ketika acara selesai, satu per satu teman-teman mulai pulang dengan pasangan masing-masing. Termasuk Yuri dan Yanagiba. Aku yang tidak memiliki pasangan hanya bisa menunggu bus di halte. Aku menggosok kedua tanganku yang mulai terasa dingin membeku. Aku lupa memakai sarung tangan. Kebodohan kedua.
            Sebuah sepeda berhenti di depanku. Kulihat Yuzuru tersenyum menatapku. “Ayo, ikut aku sebentar!”
            “Ke mana?”
            “Naiklah!”
            Dengan ragu aku naik ke sepedanya. Ia mulai mengayuh sepedanya dengan pelan. Aku memperhatikan jalan yang ia lewati. Rasanya tidak asing. Ya, karena setelah itu ia berhenti di taman belakang sekolah.
            “Kenapa ke sini?”
            Ia tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari tas-nya. Mataku hampir meloncat keluar melihat apa yang ia keluarkan. Itu tas plastik yang aku buang. Bagaimana bisa ada padanya?
            “Tadi karyawan lounge yang memberikan ini padaku. Ia menyebutkan ciri-cirimu. Ini punyamu kan?”
            “Ti... ti... iya.” Tidak ada gunanya berbohong. “Itu sebenarnya untukmu.”
            “Untukku? Boleh kubuka?” tanyanya yang hanya kuangguki dengan lemas. Aku menundukkan kepala seraya menunggu reaksinya. “Wah, sarung tangan! Hasil rajutanmu?” tanyanya dengan nada senang.
            Aku mengangkat wajahku dan melihat ia tersenyum gembira. “Kau tahu, aku selalu memimpikan mendapat hadiah rajutan apapun. Dan Natal tahun ini permohonanku dikabulkan. Terima kasih.”
            Aku tersenyum lebar. Ia tidak menganggap pemberianku sebagai kado yang membosankan dan kuno. Setidaknya pengorbananku tidak sia-sia. Ia segera mengenakan sarung tangan yang kanan. Lalu ia menarik tangan kiriku dan memakaikan sarung bagian kiri. Aku hanya bisa terdiam dengan tatapan bodoh.
            “Kita berbagi kehangatan bersama,” ujar Yuzuru yang membuatku tambah bingung.
            Dengan satu putaran, ia mengenggam tangan kananku dengan tangan kirinya. Lalu kami tertawa bersama dengan kondisi seperti ini. Aku mengerti maksudnya. Ia sadar kalau aku juga kedinginan dan lupa memakai sarung tangan.
            Dari langit muncullah butiran-butiran es. Kami menengadah bersama menikmati salju yang mulai turun perlahan.
            “Merry Christmas,” bisiknya.
            “Merry Christmas too.”
***


[1] Apa?
[2] Kenapa?

NB : Seperti biasa, Power Of Kepepet. baru bikin detik-detik terakhir, dari jam 01.00 pagi. Maaf kalau ceritanya GaJe banget -__-