CHRISTMAS
GIFTS
By
: Felis Linanda
Kulangkahkan
kakiku menuju salah satu Karaoke Lounge
yang terkenal di Jepang bersama Yuri. Hari ini salah satu teman kami mengadakan
perayaan malam Natal di sana.
Aku
menggenggam erat tas plastik berwarna biru yang berisi sebuah kado. Kado yang
mungkin sudah dianggap kuno. Tapi kado ini tidak bisa dibeli di manapun. Aku
membuatnya tanpa lelah hingga kurang tidur hanya untuk seseorang.
“Kado apa yang akan kau berikan kepada
Yuzuru?” tanya Yuri setengah berbisik.
Wajahku
memerah dengan refleks. Kueratkan syal di leherku, mencegah cuaca dingin yang
menusuk tubuhku. “Tidak... tidak ada.”
Yuri
menatapku dengan curiga. “Aku yakin kau mempunyai hadiah khusus untuknya.
Jangan-jangan kau akan memberikannya ketika kalian hanya berdua saja.”
“Tidak...
tidak...,” elakku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku berkali-kali.
“Baiklah.
Aku percaya padamu. Tapi...” Yuri mendekatkan telinganya. “Aku melihat sesuatu
terbungkus indah dalam tas plastikmu.”
Arrrgh!!
Bodohnya aku. Tas yang ditenteng begitu saja pasti akan terlihat. Kali ini aku
seperti orang bodoh di hadapan Yuri.
“Berikan
saja! Jangan malu.”
Aku
mengangguk. Kami berdua masuk ke dalam Lounge
dan mencari ruangan tempat pesta. Ketika kami masuk, ruangan tersebut sudah terjadi
kehebohan. Aku tidak menyangka banyak yang hadir di sana. Kulihat Yuzuru tengah
dikelilingi beberapa gadis. Melihat kado-kado mereka yang terbungkus cantik,
aku merasa kadoku akan terlihat buruk.
“Sana!”
seru Yuri sambil menyenggol bahuku.
Aku
menarik nafas, lalu menghelanya dengan pelan. Ketika aku hampir mendekati
Yuzuru, tiba-tiba kudengar beberapa orang menyelutuk.
“Membosankan!
Kenapa hadiah yang kuterima itu itu saja setiap tahunnya,” keluh Teppei.
“Betul!
Kado membosankan seperti syal rajutan sendiri, sapu tangan rajutan sendiri,
sarung tangan rajutan sendiri. Seperti tidak ada hadiah lain saja,” tambah
Okita.
“Benar-benar
kado yang kuno!” lanjut Tamura tanpa perasaan.
Dengan
refleks aku menyembunyikan tas plastikku ke belakang. Aku mengigit bibir dengan
kesal. Ternyata kadoku termasuk salah satu hadiah membosankan.
“Kaneda,
hai...”
Aku
mengangkat wajahku dan terkejut melihat Yuzuru di depanku. “Ng... hai.”
“Kau
kenapa?” tanyanya cemas. Lalu ia menoleh ke arah belakang, seolah tahu aku
menyembunyikan sesuatu. “Itu untukku?”
Aku
menggeleng dengan cepat. “Maaf, aku keluar sebentar!”
Aku
berbalik dan berlari keluar. Kusandarkan tubuh ke dinding dengan nafas
tersengal-sengal. Kutatap tas plastikku dengan malas. Tadinya kupikir ini akan jadi hadiah yang bagus untuknya. Kenapa ini
malah termasuk salah satu hadiah yang membosankan dan kuno. Ah, aku memang
bodoh!
Aku
melihat tong sampah besi di sana. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung
meletakkan tas itu di sana. Sambil menghentakkan kaki dan bibir mengkerut, aku
kembali masuk ke dalam ruangan Lounge.
Lebih baik tidak memberikan apapun dari pada mempermalukan diri sendiri.
Aku
berpapasan dengan Yuzuru yang melangkah keluar. “Kau ke mana saja? Acara hampir
dimulai.”
“Aku...
aku ke toilet sebentar tadi.”
“Masuklah,
aku juga mau ke belakang sebentar.”
“Iya.”
Di
dalam aku melihat semua sudah mulai karaoke. Masing-masing sibuk sendiri. Aku
mendekati Yuri yang sedang asyik menikmati lagu yang dinyanyikan teman-teman.
“Kaneda,
bagaimana? Sudah kau berikan?”
Aku
menggeleng pasrah dan duduk di sebelahnya. “Tidak jadi.”
“Loh?
Kenapa? Lalu, mana kadomu?”
“Sudah
kubuang!”
Aku
menggeleng sambil tersenyum. “Lupakan. Aku rencana memberikan yang lain saja.”
Yuri
menggelengkan kepalanya. Mungkin ia merasa aku sangat aneh. Ya, aku memang
aneh.
Ketika
acara selesai, satu per satu teman-teman mulai pulang dengan pasangan
masing-masing. Termasuk Yuri dan Yanagiba. Aku yang tidak memiliki pasangan
hanya bisa menunggu bus di halte. Aku menggosok kedua tanganku yang mulai
terasa dingin membeku. Aku lupa memakai sarung tangan. Kebodohan kedua.
Sebuah
sepeda berhenti di depanku. Kulihat Yuzuru tersenyum menatapku. “Ayo, ikut aku
sebentar!”
“Ke
mana?”
“Naiklah!”
Dengan ragu aku naik ke sepedanya. Ia mulai mengayuh sepedanya dengan pelan. Aku memperhatikan jalan yang ia lewati. Rasanya tidak asing. Ya, karena setelah itu ia berhenti di taman belakang sekolah.
Dengan ragu aku naik ke sepedanya. Ia mulai mengayuh sepedanya dengan pelan. Aku memperhatikan jalan yang ia lewati. Rasanya tidak asing. Ya, karena setelah itu ia berhenti di taman belakang sekolah.
“Kenapa
ke sini?”
Ia
tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari tas-nya. Mataku hampir meloncat keluar melihat
apa yang ia keluarkan. Itu tas plastik yang aku buang. Bagaimana bisa ada
padanya?
“Tadi
karyawan lounge yang memberikan ini
padaku. Ia menyebutkan ciri-cirimu. Ini punyamu kan?”
“Ti...
ti... iya.” Tidak ada gunanya berbohong. “Itu sebenarnya untukmu.”
“Untukku?
Boleh kubuka?” tanyanya yang hanya kuangguki dengan lemas. Aku menundukkan
kepala seraya menunggu reaksinya. “Wah, sarung tangan! Hasil rajutanmu?”
tanyanya dengan nada senang.
Aku
mengangkat wajahku dan melihat ia tersenyum gembira. “Kau tahu, aku selalu
memimpikan mendapat hadiah rajutan apapun. Dan Natal tahun ini permohonanku
dikabulkan. Terima kasih.”
Aku
tersenyum lebar. Ia tidak menganggap pemberianku sebagai kado yang membosankan
dan kuno. Setidaknya pengorbananku tidak sia-sia. Ia segera mengenakan sarung
tangan yang kanan. Lalu ia menarik tangan kiriku dan memakaikan sarung bagian
kiri. Aku hanya bisa terdiam dengan tatapan bodoh.
“Kita
berbagi kehangatan bersama,” ujar Yuzuru yang membuatku tambah bingung.
Dengan
satu putaran, ia mengenggam tangan kananku dengan tangan kirinya. Lalu kami
tertawa bersama dengan kondisi seperti ini. Aku mengerti maksudnya. Ia sadar
kalau aku juga kedinginan dan lupa memakai sarung tangan.
Dari
langit muncullah butiran-butiran es. Kami menengadah bersama menikmati salju
yang mulai turun perlahan.
“Merry
Christmas,” bisiknya.
“Merry
Christmas too.”
***
.png)