19 Mei 2017 merupakan hari bersejarah untuk 90 besar yang lolos GWP batch 3, di mana semua penasaran dengan naskahnya. Dari 400 naskah menjadi 90 besar pastinya peluang kecil sekali.
Awalnya saya tidak berani melihat pengumumannya, sampai tiba-tiba banyak notif di hape yang mengucapkan selamat. Dan puji syukur lolos 90 besar. Gak berharap sih pada awalnya karena GWP 1 dan 2 saya gagal total. Mulailah revisi besar-besaran dan kirim. Puji syukur lagi lolos ke 61 besar.
=====
21 Juli 2017
Saya terbang menuju Jakarta dari Pontianak. Sampai di Jakarta, saya diterima di rumah Mama Lia Nurida yang luar biasa sangat baik bersedia menampung saya dan 17 orang lainnya.
Ketika semua bertemu, semua langsung akrab karena sebelumnya sudah tegur sapa di grup whats app. Malam itu juga kami semua mengobrol dan main Werewolf sampai jam 00.30. Beberpa memilih tidur, beberapa memilih ngobrol. Saya sendiri sampai jam 03.00 dan tidur sampai jam 05.00.
======
22 Juli 2017
Hari eksekusi!!
Karena banyaknya yang nginap, kami harus memakai 3 grab car dibagi 3 kloter. Selama pagi itu notif grup bunyi terus. Semua saling berkabar. Ada yang tanya lokasi, ada yang baru berangkat, ada yang sudah sampai. Kami sendiri sempat tersesat karena gak tau jalan dan mengandalkan GPS.
Sampai di sana, tiba-tiba ada yang nanya "Kak Felis, ya?" Saya cuma cengo dan tanpa malu bertanya "Iya. Maaf, ini siapa?" Saya ingat yang pertama adalah "Benefita." 😂😂. Dan sampai di lift, di lantai atas semua rata-rata mengenal saya. Sementara saya nggak kenal sama sekali. Ya ampun. Maafkan saya semuanya.
Jujur saya paling khawatirkan adalah Hanny Dewanti. Secara ini pertama kali dia sendiri ke Jakarta tanpa nginap bareng. Tapi, lega ketika Hanny muncul. Cantik sekali kamu dengan setelan merah 😍.
Setelah itu sesuai kelompok kami mulai belajar. Waktu itu kelas pertama adalah kelasnya Bang Tere Liye. Jujur, awalnya gak excited karena banyaknya berita buruk tentang beliau. Tapi, ketika beliau mulai mengajar, guys, orangnya menyenangkan! Gak kaku, humoris dan yaaaay ilmunya dalam membuat ide cerita itu mudah dipahami. Menulislah dengan sudut pandang spesial. Sederhana tapi gak pernah kepikiran.
Kedua kelas Bang Mansyur. Jujur saya nggak kenal. Tapi, di kelas beliau, saya sadar hanya seorang penulis abal-abal. Beliau hanya dengan 2 kalimat saja sudah bisa menebak cerita. Applause, Bang!! Intinya mengawali cerita dengan hentakan keras yang membuat semua bertanya. Abaikan "jam weker berbunyi", "pada suatu hari" oh tidaaaaak!! Lupakan itu.
Ketiga kelasnya Kak Rosi. Ini favorit!!! Tema-nya plot. Dan lewat kelas ini saya tahu "naskah saya kalah". Kak Rosi mengajar dengan ceria, riang dan mudah dipahami. Iya mudah dipahami tapi sulit menerapkan. Saya masih butuh bimbingan di sini. Kak Rosi, saya bangga sudah favorit sama kakak.
Keempat kelasnya Ci Hetih yang cuma 20 menit. Terpendek pokoknya. Semua agak takut. Tapi, dari awal Mak Catz Link Tristan sudah bilang Ci Hetih itu lucu dan ramah. Ternyata guys, kami harus tertawa terus selama kelas Ci Hetih. Terlalu singkat sebenarnya, jadi yaaaah... kecewa sih. Yang penting dipahami unsurnya. Menulis, edit, rewrite. Uhuiii...!
Kelima kelasnya... (oke ini maaf agak excited) kelasnya babang tampan alias Bang Benz Bara. Excited mungkin karena kami 1 kota. Hahahahha. Bang Bara mengajar kelas media sosial untuk promosi. Jujur, saya lebih banyak terpesona dari pada meresap ajarannya #AmpuniSaya. Intinya, nangkap sih pesan-pesan yang disampaikan. Dan sudah diterapkan di semua media sosial saya. Thanks, Bang 😍.
Dan eng ing eng.... PENGUMUMAN!
Sebelumnya kuis dulu sih. Dan saya beruntung bisa jawab pertanyaan dan bawa pulang voucher 100rb 😜.
Dan ketika pengumuman, saya justru berdoa yang menang semoga dari grup kami. Karena dari kelas Kak Rosi saya sudah sadar saya kalah. Dan puji syukur!! Juara 1, 2, 3 dan harapan 1 dari grup kami. Senaaaaaang rasanya. Thanks God. Saya yakin mereka yang terbaik.
Ketika acara berakhir saya nangis karena gak ada bukunya Bang Bara yang sedang diserbu tanda tangan dan selfie. Akhirnya dengan modal nekat saya dekati beliau. "Bang, foto. Saya pontianak juga!" Dan walah... Bang Bara langsung tersenyum lebar dan merangkul saya. "Bang, tahuuuuuu ngggak saya hampir pingsan saking senangnya dirangkul setengah meluk gitu." Maafkan ke lebai an saya. Itu memang yang saya rasakan. Thanks Arako yang sudah jadi tukang fotonya.
Ketika menunggu grab, ketemu lagi sama babang tampan. Duduk sebelahnya bikin jantungku hampir copot. Saya suka karena Bang Benz asli cerdas dan sama-sama penyuka kopi.
*Maaf ya Bang, saya masih ada hutang. Saya janji akan lunasi setelah Bang Benz ke Pontianak lagi.* 😂😂😂
Malamnya, kami semua main WW karena gak bisa karaoke. Selain capek, hujan juga deras. Mau tidur rasanya sayang banget karena sudah hari terakhir.
======
23 Juli 2017
Good bye. Saya sedih sebenarnya harus pulang. Tapi, suatu hari saya akan kembali 😭.
========
Senang banget yang pasti atas kesempatan ini. Saya dapat hadiah, dapat ilmu dan dapat keluarga baru. Sungguh, mau ditukar dengan berlian pun nggak akan bisa.
Terima kasih para mentor. Terima kasih para editor. Terima kasih Gramedia. Terima kasih Jakarta Creative Hub. Terima kasih Mama Lia. Terima kasih teman-teman. Saya beruntung dan saya bahagia. Suatu hari kita akan bertemu lagi 🙏❤
Love,
Felis Linanda
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave a comment here ...